10
Dec

Komitmen Universitas Asia Pasifik untuk Pendidikan

Prof Apridar

Saya menginjakkan kaki di Melbourne, Australia bersama rombongan anggota Consortium of Asia-Pacifik Education Universities (Capeu). Kali ini, Deakin University menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan asosiasi universitas dari Asia Pasifik. Pertemuan yang berlangsung 9-16 Mei 2015 ini akan membahas kurikulum pendidikan perdamaian, pemilihan sekretariat baru Capeu dan sejumlah agenda penting lainnya.

          Universitas Malikussaleh (Unimal) menjadi salah satu dari 18 anggota asosiasi ini sejak tahun 2012 lalu. Sebanyak 11 universitas dari Indonesia dan sisanya dari Australia, Malaysia dan Brunei tergabung dalam asosiasi ini. Dalam setiap pertemuan, sejumlah pimpinan universitas itu memikirkan, merumuskan konsep dan sistem pendidikan yang baik. Salah satu tema yang penting adalah merumuskan kurikulum pendidikan perdamaian. Bagi Aceh, tentu ini salah satu hal yang patut dikembangkan. Universitas di Aceh sejatinya melakukan upaya menjaga perdamaian. Sehingga, perdamaian antara RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bisa dijaga, dirawat dan bersemai hingga anak cucu kita.

          Seluruh universitas anggota Capeu pada prinsipnya ingin meningkatkan kualitas lulusan, melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, menguasai teknologi informasi dan berintegritas. Integritaslah yang menjadi kata kunci yang wajib dimiliki calon pemimpin di seluruh negara. Pemimpin berintegritas diyakini mampu membawa perubahan positif untuk kemajuan bangsanya. Khusus Indonesia, pemimpin berintegritaslah yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, menegakkan supremasi hukum, dan mendorong kemajuan pendidikan. Dan, kampus diyakini menjadi salah satu tempat untuk melahirkan pemimpin berintegritas itu.

Selain itu, anggota Capeu diharapkan mampu melahirkan lulusan yang bisa bersaing dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan dunia internasional. Untuk itu, seluruh universitas di Indonesia dan Aceh sejatinya menyiapkan diri menghadapi MEA. Menyiapkan SDM berkualitas internasional dilakukan sejak lama dilakukan oleh Australia. Secara spesifik, Melbourne merupakan kota terbaik untuk mahasiswa internasional yang kuliah di negeri Kanguru itu. Bahkan, Melbourne sejak empat tahun lalu tercatat menduduki peringkat kedua dunia sebagai kota ternyaman untuk mahasiswa internasional. Ini berdasarkan badan pemeringkat universitas terbaik dunia atau QS Top Universities. Empat indikator yang digunakan untuk menempatkan Melbourne sebagai kota kedua ternyaman untuk mahasiswa internasional yaitu keberagaman pelajar, kepuasan perusahaan internasional yang merekrut lulusan, hal-hal yang disenangi mahasiswa serta keterjangkauan biaya.

Melbourne menyediakan berbagai festival budaya dari seluruh dunia saban tahun. Selain itu, hampir seluruh suku bangsa dunia berada di kota yang dijuluki kota sejuta festival itu. Melbourne pula menyiapkan lulusannya agar mampu bersaing dengan lulusan universitas dunia lainnya. Di kota ini, sejumlah perpustakaan dibuka selama 24 jam, memiliki ribuan koleksi judul buku, baik dalam bentuk print out maupun dalam bentuk digital. Ruang diskusi antar bangsa dibuka seluas-luasnya di kota ini. Sehingga, masyarakat kota ini sangat percaya diri mampu bersaing dengan masyarakat di belahan dunia lainnya. Komitmen pemerintah Melbourne untuk memajukan pendidikan terlihat jelas. Pemerintah mendukung penuh berbagai penelitian yang dilakukan. Melengkapi sarana dan prasarana perkuliahan dan lain sebagainya. Perusahaan swasta dan badan usaha negara juga melakukan hal yang sama. Sehingga, Melbourne bisa mengklaim dirinya sebagai kota paling pro kemajuan pendidikan di Australia.

Sikap pemerintah dan perusahaan swasta maupun badan usaha negara di Melbourne ini tampaknya perlu ditiru oleh Indonesia dan Aceh secara serius. Sehingga, kampus bisa memperbanyak jumlah riset saban tahun, serta bisa mendorong mahasiswa agar lebih aktif pada kegiatan-kegiatan yang menghasilkan produk untuk membantu masyarakat. Misalnya, mahasiswa bisa menghasilkan produk untuk membantu masyarakat mengatasi hama pada tumbuhan mereka dan lain sebagainya. Pada akhirnya, mari berkomitmen memajukan dunia pendidikan di Aceh dan Indonesia. Kita ingin, bangsa ini menjadi besar dan dikenal dunia karena memiliki SDM handal. Bukan dikenal karena hal-hal negatif seperti korupsi, dan lain sebagainya.

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *