10
Dec

Melihat Negeri Tanpa Pemadaman Listrik

icsb-awardProf Apridar, Rektor Universitas Malikussaleh, Aceh Utara

 

SUDAH dua hari saya berada di Seol, Korea Selatan. Dengan sejumlah sejawat lainnya dari Indonesia, kami mengikuti 2015 knowledge sharing program with Indonesia 16-20 Maret 2015 yang diselenggarakan oleh Korea Development Institute (KDI). Negeri ini bisa disebut sebagai negeri yang belajar dari pengalaman. Soal krisis listrik misalnya, negeri ini belajar pada krisis listrik yang terjadi pada Agustus 2013 dan September 2011 lalu. Saat itu, Korsel menghadapi krisis energi listrik, sehingga perusahaan listrik negara- Korea Power Excange-terpaksa melakukan pemadaman bergilir. Hal yang nyaris saban hari, saban pekan, terjadi di Aceh.

Dari krisis itu, Korea lantas membenahi sistem power plant mereka. Fokus utama yaitu menyediakan energi yang berkelanjutan. Maka, Korsel pun memproduksi listrik dengan tiga sumber bahan baku yaitu batu bara sebesar 55 persen, solar sistem 22 persen dan sisanya kincir angin 23 persen. Salah satu perusahaan terbesar yang mengelola listrik Korsel yaitu Yeongheung Thermal Power Plant bahkan memproduksi 53 persen listrik mereka bersumber dari batu bara. Hasil penelitian sejumlah universitas di Korsel, asap pembajaran batu bara masih di bawah ambang batas pencemaran udara. Sehingga, dipastikan, kondisi udara tetap steril dan berdampak positif untuk masyarakat.

Batu bara itu berasal dari Kalimantan, Indonesia. Sadar akan kebutuhan bahan baku batu bara untuk Korsel, Korea Institute of Energy Research (KIER) tahun lalu menandatangani kerjasama dengan PT Sucofindo membangun pabrik pengolahan batu bara di Sumatera Selatan. Tidak tanggung-tangung nilai investasi untuk pabrik itu sebesar US$ 90 juta – US$ 100 juta. Dengan pembangunan pabrik ini, maka Korsel akan mengimpor batu bara dengan kualitas tinggi dari Indonesia. Mereka membantu teknologi untuk meningkatkan batu bara dari kualitas rendah di Indonesia lalu diimpor ke Korsel dengan kualitas tinggi. Ini sebagai upaya memastikan ketersediaan energi di negeri ginseng itu.

Selama saya di Korsel, tidak ada pemadam bergilir seperti yang kerap terjadi di Indonesia. Negeri ini memberlakukan zero persen untuk pemadaman listrik. Saat ini, Korsel memiliki tiga turbin pembangkit listrik dengan bahan baku batu bara. Kapasitas ketiga turbin itu bahkan mencukupi untuk seluruh Korsel. Jika hanya satu turbin saja beroperasi, lampu-lampu di jalanan Korsel, perkantoran, dan rumah masyarakat dipastikan tetap bersinar.

Tiap tahun negeri ini mengimpor batu bara sebanyak 400 juta ton. 40 persen diantaranya berasal dari Indonesia. Tarif listrik pun terbilang murah di Korea yaitu sekitar 6 sen/kwh, di Indonesia sekitar 9-10 sen/kwh. Tarif mahal listrik di Indonesia itu dikarenakan Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik Indoensia Rp 1.300 per kwh. BPP ini disebut termahal di dunia.

Untuk mempercepat proses pembangunan, baik itu pembangunan di sektor ekonomi, infrastruktur dan lain sebagainya, memastikan ketersediaan energi listrik merupakan satu keniscayaan. Jaminan energi listrik merupakan salah satu syarat utama untuk memajukan suatu daerah, membebaskan rakyat dari ketertinggalan dan mendorong kemakmuran untuk seluruh anak bangsa.

Sayangnya, sampai saat ini, pemerintah kita belum memiliki konsep yang jelas untuk menjamin ketersediaan listrik secara menyeluruh di negeri ini. Sehingga, keluhan listrik byar pet selalu menghiasi media massa.

Bangsa ini harus fokus mengembangkan pembangkit listrik batu bara. Mengatur tata kelola batu bara dan penggunaannya agar ramah lingkungan. Soal stok, Indonesia tercatat sebagai negara kedua penghasil terbesar batu bara di dunia setelah Australia. Tuhan telah menganugerahkan batu bara sebagai kekayaan alam, namun bangsa ini belum bisa memaksimalkan batu bara untuk menjamin suplai energi.

Khusus Aceh, pembangkit listrik batu bara berada di Aceh Barat. Tampaknya, ke depan, Aceh patut memikirkan opsi mengembangkan pembangkit listrik batu bara lainnya di sejumlah kabupaten/kota. Sehingga, provinsi ini terbebas dari keluhan pemadaman bergilir.

Kita ingin, satu waktu, Aceh atau Indonesia seperti Korsel hari ini. Memastikan lampu untuk rakyat terus menyala. Menerangi kehidupan dan merekam seluruh perubahan peradaban. Mari belajar dari negeri tanpa pemadaman listrik itu.

 

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *