10
Dec

Saya , Imam Syuja’ dan Pendidikan Tinggi

Apridar

Guru Besar Ekonomi dan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh. Email apridarunimal@yahoo.com

 

PAGI, Jumat, 11 Desember 2015, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya. Pesan itu berisi kabar duka. Bahwa, Imam Syuja’ telah kembali ke pangkuan sang pencipta.

Setelah pesan pertama saya baca. Berikutnya puluhan pesan singkat berisi kabar duka itu masuk ke handphone saya. Saya membuka jejaring sosial, kabar duka itu pun memenuhi time line jejaring sosial.

Saat itu saya terenyuh. Sedih bercampur haru. Sedih karena kehilangan seorang teman diskusi yang hangat. Guru yang bijak dalam melihat keberagaman Aceh dan konsisten terhadap pendidikan tinggi.

Haru karena mengingat begitu banyak diskusi ringan, santai namun bermakna yang telah saya dan Imam lewati. Bagi saya, Imam Syuja’ bukan sekadar teman dan guru. Bagi saya, Imam adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki Aceh. Dia ikut menjadi penentu sejarah Aceh. Turut menyelesaikan konflik yang berkepanjangan, tak berkesudahan dan pada akhirnya berkahir damai.

Kami terlibat beberapa kali diskusi hangat sebelum dan sesudah saya menjadi Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara. Saya sepaham dengan Imam, yang sangat pro pengembangan pendidikan tinggi. Bagi kami, pendidikan tinggi ini tidak akan berkembang jika tidak didukung semua lapisan masyarakat. Pendidikan tinggi akan timpang jika tidak didukung arah pembangunannya.

Maka, kami sama-sama mendorong agar Pemerintah Aceh, memberikan beasiswa khusus untuk aneuk nanggroe ini. Hasilnya, pemerintah memang memplot beasiswa lanjutan untuk anak bangsa (sebagian besar dosen) untuk melanjutkan pendidikan strata dua dan strata tiga di luar negeri.

Saat itu, saya menyampaikan agar pemberian beasiswa itu seharusnya sesuai dengan arah pembangunan Aceh ke depan. Misalnya, jika Aceh konsisten pada pengembangan pertanian, kelautan, dan Migas, maka sejatinya ahli di tiga bidang itu diperbanyak. Sehingga, begitu anak bangsa ini pulang ke Serambi Mekkah, keahlian mereka langsung bisa dibaktikan untuk membangun Aceh yang porak-poranda paska tsunami dan perang.

Sementara bidang ilmu lain, cukuplah diberikan beasiswa untuk guru dan dosen. Sehingga, beasiswa itu benar-benar bisa bermanfaat untuk pembangunan Aceh masa depan.

Imam Syuja’ sepakat dengan ide itu. Kami pun sama-sama mendorong agar seluruh pemerintah kabupaten/kota memberikan beasiswa untuk generasi di daerahnya. Menjadi rahasia umum, mayoritas penduduk Aceh masih berada di garis kemiskinan. Untuk itu, dukungan dana pendidikan menjadi suatu keniscayaan yang tak terbantahkan.

Pendidikan kami yakini bersama menjadi salah satu penyelesaian konflik secara komprehensif di Aceh. Jika masyarakat kita memiliki pendidikan yang baik, pekerjaan yang baik, maka itu sebagai salah satu cara untuk mengerus niatan aneh seperti narkoba dan menekan angka kriminal bersenjata api.

Kami pun melakukan upaya agar meningkatkan kompetensi dosen. Imam mendorong seluruh dosen yang berada di bawah payung Muhammadiyah melanjutkan pendidikan magister dan doktoral. Sehingga, saat ini Muhammadiyah sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang memiliki banyak magister dan doktoral di seluruh Aceh. Saya mendorong hal yang sama di Universitas Malikussaleh, Aceh Utara.

Sekali waktu, kami berbincang dan menyatakan, buat apalah hidup ini jika tidak bisa bermanfaat untuk orang lain. Setidak-tidaknya bermanfaat untuk orang-orang di kampus kita, di daerah kita, dan seluruh masyarakat kita. Bahwa, ada sebagian pihak yang tidak suka akan hal yang kita perbuat, itu juga menjadi keniscayaan. Prinsipnya no body perfect.

Sudut pandang seluruh manusia wajib berbeda. Ada yang menyukai apa yang kami lakukan bersama Imam Syuja’. Ada pula yang rikuh dengan apa yang kami perjuangkan itu. Nah, disinilah kita harus sadar, bahwa di dunia ini memang begitu. Jikalah semua sudut pandang sama, maka tak akan ada perang. Jika lah semua orang memiliki ide dan gagasan yang sama, maka tidak ada lagi angka kemiskinan dan pengangguran. Di situlah perbedaan harus dimaknai sebagai kekuatan untuk menyatukannya dalam tangkup pembangunan bersama.

Saya semakin sedih? Sampai Imam Syuja’ menghadap sang khalik, perjuangan agar semua pemerintah kabupaten/kota memberikan beasiswa untuk masyarakat yang kuliah di perguruan tinggi belum terwujud. Beasiswa masih diberikan dalam bentuk taktis, semisal memberikan bantuan saat menyusun tugas akhir atau skripsi. Sejatinya, kami menginginkan, agar pemerintah kabupaten/kota memberikan beasiswa untuk anak miskin namun berotak encer dari semester awal hingga tamat. Sehingga, dia bisa terus belajar maksimal dan berprestasi. Pada akhirnya bisa mengaplikasikan ilmunya untuk membentuk tatanan lebih baik di tengah masyarakat.

Meski begitu, saya yakin, semua teman-teman yang berpikir dan memiliki pandangan yang sama, terus memperjuangkan ide besar ini. Bahwa, beasiswa harus didorong untuk anak kurang mampu namun cerdas.

Kami juga sepakat bersama Imam agar mengembangkan teknologi informasi yang modern di pendidikan tinggi. Semua itu harus merujuk sumber saripati ilmu yaitu Al Quran. Sehingga, generasi emas akan lahir dari kampus. Generasi emas adalah mereka yang paham Al Quran, cerdas secara emosional dan inetigensi serta menguasai teknologi informasi.

Dan, saya terus mengerjakan itu sampai saat ini. Imam Syuja’ selamat jalan. Jasamu akan dicatat oleh rakyat Aceh dan terus abadi di negeri ini.

CATATAN INI UNTUK BUKU MENGENANG IMAM SYUJA’