18
Dec

Membangun Aceh Utara Dengan Komoditas/Produk/Jenis Usaha Unggulan

Prof. Dr. H. Apridar, SE, M. Si

Rektor Universitas Malikussaleh

  1. Profil Aceh Utara

Kabupaten Aceh Utara merupakan salah satu kabupaten yang berada di bagian pantai timur wilayah Provinsi Aceh. Terletak antara 96.52.00o – 97.31.00 o Bujur Timur dan 04.46.00o – 05.00.40o Lintang Utara. Kabupaten yang beribukota di Lhoksukon ini mempunyai wilayah seluas 3.296,86 km2.

Kabupaten ini memiliki batas wilayah sebagai berikut; Sebelah utara berbatasan dengan Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bener Meriah, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bireuen. Sampai dengan tahun 2011 Kabupaten Aceh Utara terdiri dari 27 kecamatan, 70 kemukiman, dan 852 gampong/desa.

Aceh Utara memiliki jumlah penduduk terpadat dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinvi Aceh. Pada tahun 2011 tercatat lebih dari setengah juta penduduk yang menghuni wilayah ini, tepatnya sebanyak 541.878 orang. Mereka terdiri atas 268.357 orang laki-laki dan 273.521 orang perempuan, serta terkumpul dalam 125.637 rumah tangga.

Kecamatan Paya Bakong merupakan wilayah terluas di Kabupaten Aceh Utara, wilayahnya meliputi 12,69 persen dari keseluruhan wilayah. Sedangkan Kecamatan Sawang mencapai 11,67 persen dari wilayah Aceh Utara. Sedangkan penduduk yang menghuni kedua wilayah tersebut masing-masing sebanyak 6.481 jiwa dan 34.521 jiwa.

Kecamatan Lhoksukon yang merupakan ibukota kabupaten, menjadi tujuan utama tempat tinggal penduduk, sehingga sekitar 10.671 rumahtangga menempati kecamatan tersebut. Kecamatan lainnya yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Sawang dan Kecamatan Tanah Jambo Aye. Penduduk yang menetap di wilayah itu masing-masing sebanyak 44.876 jiwa dan 40.472 jiwa. Sebaliknya, penduduk paling sedikit bermukim di Kecamatan Banda Baro, yakni sebanyak 7.415 jiwa.

Kepadatan penduduk antar kecamatan sangat bervariasi, antara 17 km2 yang terjarang (Kecamatan Geureudong Pase) hingga 1.137 merupakan yang terpadat (Kecamatan Dewantara). Secara umum kepadatan penduduk di Kabupaten Aceh Utara sebanyak 164 orang per kilometer persegi.

Secara umum, kehidupan di wilayah ini cukup baik. Hal ini terlihat dari angka IPM yang berada pada posisi 8 dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Pada tahun 2011 angka indikator yang menggambarkan kemajuan pembangunan manusia tersebut mencapai 72,85. Angka tersebut lebih tinggi daripada IPM Provinsi Aceh secara umum yang tercatat 72,16.

Dari sisi kesehatan, angka harapan hidup penduduk Kabupaten Aceh Utara tercatat 69,80 tahun, setahun lebih tinggi dari angka harapan hidup penduduk Aceh. Sedangkan angka melek huruf mencapai 97,83 persen dan rata-rata lama sekolah sebesar 9,19 tahun. Artinya penduduk dewasa di daerah ini rata-rata telah menyelesaikan pendidikan dasar 9 tahun atau menamatkan SLTP/sederajat. Sementara itu, kemampuan daya beli penduduk sebesar 612,04 ribu rupiah per kapita per bulan.

Sebanyak 124.662 penduduk hidup dengan pengeluaran dibawah atau paling banyak Rp 271.150. Hal ini berarti sekitar 22,89 persen penduduk masih hidup dibawah garis kemiskinan.

Kabupaten Aceh Utara mempunyai potensi pertambangan minyak dan gas yang besar, akan tetapi saat ini sudah jauh berkurang. Namun sektor ini masih mendominasi perekonomian daerah, karena sekitar 44,94 persen disumbang oleh sektor pertambangan dan penggalian (migas, tahun 2011).

Tabel 1   Jumlah Rumahtangga, Penduduk, dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Aceh Utara 2011

Sektor pertanian menyumbang perekonomian daerah ini cukup besar dengan share sebesar 22,95 persen dari total perekonomian daerah. Jika migas tidak dimasukkan, maka peranan sektor ini mencapai 41,31 persen dalam kegiatan ekonomi daerah. Oleh karenanya potensi sektor pertanian layak dikembangkan daerah ini, mengingat potensi migas yang terus berkurang.

Sektor lain yang memberikan peran cukup besar antara lain sektor perdagangan, hotel, dan restoran (14,88 persen), sektor jasa-jasa (13,59 persen), dan sektor pengangkutan dan komunikasi (11,38 persen). Kondisi tersebut jika migas tidak disertakan.

 

  1. Kondisi Perekonomian

Aceh Utara adalah kabupaten terbesar di Provinsi Aceh, baik dari segi jumlah penduduk maupun jumlah wilayah administrasi kecamatan dan gampong. Bahkan sebelum memekarkan Kabupaten Bireuen dan Kota Lhokseumawe, wilayahnya merupakan salah satu yang terluas di provinsi paling barat di Indonesia tersebut. Meskipun telah jauh berkurang, pertambangan minyak dan gas bumi masih berperan besar dalam perekonomian daerah. Karena dari sejumlah hampir 12 trilyun rupiah PDRB kabupaten ini, sebanyak 44,46 persen merupakan kontribusi pertambangan migas. Bahkan pada 3 tahun sebelumnya, pertambangan migas memberi kontribusi hingga 64,48 persen dalam kegiatan ekonomi daerah ini.[1]

Seperti kebanyakan daerah lainnya di Provinsi Aceh, sektor pertanian juga memberikan peran yang besar dalam kegiatan ekonomi. Sekitar 23 persen perekonomian daerah ini disumbang oleh sektor pertanian, dengan catatan jika migas dimasukkan. Andai migas tidak dimasukkan ke dalam kegiatan ekonomi, maka peran sektor pertanian mencapai 41,31 persen. Mengingat potensi pertambangan migas semakin berkurang, maka potensi sektor pertanian layak dikembangkan agar dapat menjadi penyokong utama kegiatan ekonomi di daerah ini.

Sektor lain yang mempunyai peran cukup besar adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang memberi kontribusi sebesar 14,88 persen. Kemudian sektor jasa-jasa memberi sumbangan sebesar 13,59 persen dalam perekonomian daerah, subsektor jasa pemerintahan umum sebagai kontributor utama dengan perannya sebesar 12,39 persen. Sementara itu sektor pengangkutan dan komunikasi berperan sebesar 11,38 persen.

Gambar 2   Distribusi Persentase PDRB dan Proporsi Pekerja Menurut Lapangan Usaha, Kabupaten Aceh Utara, 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekitar 211.686 penduduk Kabupaten Aceh Utara telah bekerja, dimana sebagian besar bekerja di sektor pertanian (63,38 persen). Mereka berkontribusi dalam perekonomian sebesar 22,95 persen. Jika digabung dalam kelompok sektor primer, maka penduduk yang bekerja sebanyak 63,96 persen dengan kontribusi dalam kegiatan ekonomi sebesar 67,89 persen. Ini disebabkan oleh pertambangan migas. Sementara itu, kelompok sektor tersier yang menyerap tenaga kerja sebanyak 30,73 persen dari keseluruhan penduduk yang bekerja, memberikan andil sebesar 24,52 persen dalam perekonomian daerah.

  1. Potensi KPJU

Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Aceh Utara cenderung moderat, dengan pertumbuhan di bawah 4 persen pada 4 tahun terakhir (2008-2011). Pada tahun 2011 tercatat 3,91 untuk nonmigas dan jika migas dimasukkan maka pertumbuhan ekonomi wilayah ini hanya 2,46 persen. Angka yang disebutkan terakhir sudah sangat baik kemajuannya, karena pada 3 tahun sebelumnya nilainya minus alias menurun. Hal itu disebabkan oleh penurunan produksi pertambangan migas. Ditinjau dari sisi sektor usaha, terlihat bahwa sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan tertinggi, yakni 9,16 persen. Dengan kontribusi yang besar dalam kegiatan ekonomi, maka sektor yang ditopang oleh subsektor jasa pemerintahan umum ini menjadi motor penggerak ekonomi Aceh Utara. Sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan tumbuh sebesar 7,49 persen. Namun akibat kontribusinya yang kecil, maka dampaknya tidak begitu besar dalam pertumbuhan ekonomi di wilayah ini. Sementara sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh lumayan sebesar 5,63 persen.

Sektor pertambangan dan penggalian turun 0,34 persen, sebagai akibat penurunan subsektor pertambangan migas. Sedangkan sektor utama lainnya, yakni sektor pertanian hanya tumbuh sebesar 0,95 persen.

Berdasarkan hasil Indepth Interview dan FGD, analisis AHP menghasilkan skor terbobot setiap sektor/subsektor ekonomi untuk setiap tujuan penetapan KPJu unggulan, serta skor terbobot total/gabungan dari masing-masing sektor usaha seperti disajikan pada Tabel 71. Pada Tabel tersebut dapat dilihat bobot setiap sektor/subsektor untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi dalam rangka ,penciptaan lapangan kerja serta tujuan peningkatan daya saing produk untuk penetapan KPJu unggulan di Kabupaten Aceh Utara.

Tabel 2   Skor Terbobot Tingkat Kepentingan Setiap Sektor Ekonomi Menurut Aspek Tujuan dan Urutan Kepentingan Dalam Rangka Penetapan KPJu Unggulan di Kabupaten Aceh Utara

Sektor Usaha Tujuan (Skor Terbobot) Skor Terbobot Gabungan Rangking
Pertumbuhan ekonomi Penciptaan lapangan kerja Peningkatan daya saing produk
0.3106 0.3805 0.3089
 Tanaman Pangan 0.1129 0.1075 0.1005 0.1070 1
 Perkebunan 0.0990 0.1070 0.1113 0.1058 2
 Peternakan 0.1017 0.0897 0.0864 0.0924 3
 Perdagangan 0.0871 0.0912 0.0929 0.0904 4
 Perikanan 0.0878 0.0905 0.0924 0.0902 5
 Industri 0.0886 0.0895 0.0889 0.0890 6
 Jasa 0.0846 0.0861 0.0872 0.0860 7
 Kehutanan 0.0839 0.0859 0.0867 0.0855 8
 Pertambangan 0.0843 0.0850 0.0860 0.0851 9
 Angkutan 0.0855 0.0844 0.0847 0.0848 10
 Pariwisata 0.0847 0.0833 0.0831 0.0837 11

      Sumber : Data Primer, Tahun 2012 (diolah)

Selanjutnya, dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi tentang penetapan kompetensi inti daerah dilakukan penetapan KPJu unggulan Lintas sektor. Penetapan dilakukan dengan menggunakan Metoda Bayes, dengan mempertimbangkan bobot kepentingan atau prioritas setiap sektor usaha (Tabel 71) serta hasil skor KPJu unggulan setiap sektor usaha yang telah diperoleh (Tabel 72).

Tabel 3   Rangking dan Skor-Terbobot KPJu Unggulan Per Sektor Usaha di Kabupaten Aceh Utara

Sektor/ Subsektor Sektor Usaha / KPJu Bobot Rangking Sektor/ Subsektor Sektor Usaha / KPJu Bobot
Padi Palawija Padi 0.2363 1 Sayuran Cabe 0.1573
Ubi Jalar 0.2007 2 Cabe Merah 0.1516
Kacang Hijau 0.1633 3 Cabe rawet 0.1316
Ubi Kayu 0.1296 4 Tomat 0.0949
Kacang Tanah 0.1071 5 Sawi 0.0923
Buah-Buahan Durian 0.1533 1 Perkebunan Sawit 0.1869
Nangka 0.1378 2 Kakao 0.1783
Manggis 0.1216 3 Karet 0.1610
Belimbing 0.1022 4 Kopi 0.1013
Langsat 0.1022 5 Aren 0.0692
Peternakan Budidaya ayam ras 0.2004 1 Perikanan Penangkapan di Laut 0.1523
Budidaya Lembu 0.1834 2 Kapal Motor Pen. Ikan 0.1466
Budidaya Kerbau 0.1252 3 Ikan Nila 0.1282
Budidaya Kambing 0.1176 4 Perahu Tak Bermotor Pen. Ikan 0.1180
Budidaya Itik 0.0992 5 Ikan Mas 0.1131
Kehutanan Bakau 0.1935 1 Tambang Batu/Koral 0.3220
Rotan 0.1576 2 Tanah Liat 0.2625
Kayu Putih 0.1458 3 Kapur 0.2283
Bambu 0.1346 4 Pasir 0.1872
Meranti 0.1218 5      
Industri Kerajinan 0.1751 1 Perdagangan Sembako 0.1524
Air Minum/Air Mineral 0.1619 2 Hasil perkebunan 0.1392
Makanan/jajanan (Emp. Melinjo) 0.1513 3 Toko Obat 0.1218
Industri Dari Logam (Pandai Besi) 0.1204 4 Toko Bangunan 0.1153
Industri Dari Kayu 0.0943 5 Kedai makan minum 0.1129
Angkutan Angkutan Kota 0.1495 1 Jasa Praktek Bidan 0.1501
Truck Pick Up 0.1408 2 Bengkel motor 0.1212
Mobil Roda Empat 0.1286 3 Puskesmas 0.1180
Angkutan Desa 0.1039 4 Tempat/ Tukang Jahit 0.1080
Becak Barang bermotor 0.0983 5 Tukang perabot 0.0984
Pariwisata Air Terjun 0.3729 1      
Wisata Religi 0.3435 2      
Wisata Pantai 0.2836 3      
    4      
    5      

        Sumber : Data Primer, Tahun 2012 (diolah)

Kegiatan ekonomi masyarakat di Kabupaten Aceh Utara berbasis pada sektor  pertanian dengan masuknya 8 sektor usaha dibidang pertanian satu bidang jasa bidang dan peternakan hewan. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh 10 (sepuluh) KPJu unggulan lintas sektor berdasarkan urutan nilai skor terbobot KPJu yang bersangkutan, seperti disajikan pada Tabel 72. Kabupaten Aceh Utara hingga saat ini, tercatat bahwa sektor perkebunan masih menjadi sektor primadona dengan komoditi sawit, kakao dan karet yang menjadi andalan utamanya.Hasil lengkap berupa rangking atau urutan KPJu unggulan lintas sektor usaha berdasarkan nilai skor terbobot masing-masing KPJu dapat dilihat pada Tabel 73 pada urutan pertama sawit, padi, kakao, penangkapan dilaut, cabe, karet, durian, budidaya ayam ras, praktek bidan dan kerajinan.

Tabel 4   KPJu Lintas Sektor yang Mempunyai Nilai Skor Terbobot Tertinggi  Sebagai KPJu Unggulan Lintas Sektor di Kabupaten Aceh Utara

Rangking Sektor/ Subsektor KPJu Bobot
1 Perkebunan Sawit 0.0284
2 Padi Palawija Padi 0.0271
3 Perkebunan Kakao 0.0268
4 Perikanan Penangkapan dilaut 0.0266
5 Sayuran Cabe 0.0258
6 Perkebunan Karet 0.0245
7 Buah-Buahan Durian 0.0239
8 Peternakan Budidaya ayam ras 0.0230
9 Jasa Praktek Bidan 0.0227
10 Industri Kerajinan 0.0224

              Sumber : Data Primer, Tahun 2012 (diolah)

 

Berdasarkan hasil FGD potensi unggulan untuk usaha yang ada di Aceh Utara adalah perkebunan dan padi palawija. Luas areal pertanian dan perkebunan menjadikan kedua sektor tersebut menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat aceh utara. Usaha pertanian yang  meliputi: sawit, karet, kakoa, sawah, sayur-sayuran dan buah-buahan telah memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah.

 

Menurut lifecycle-nya, Sawit, padi, kakao dan penangkapan ikan dilaut mengalami kematangan.  Karenakan  pada beberapa titik perkebunan sawit merupakan peninggalan belanda disamping itu Aceh Utara juga pernah menjadi lumbung padi untuk Aceh. Banyaknya jumlah TPI di Aceh Utara menjadikan pusat penampungan ikan seperti TPI di Seunuddon, Lapang, Tanah Pasir dan Muara Batu.

Tabel 5   Lifecycle KPJu Lintas Sektor

No KPJu KPJu Lifecycle
Pengenalaan Pertumbuhan Kematangan Penurunan
1 Perkebunan      
2 Padi Palawija      
3 Perkebunan      
4 Perikanan      
5 Sayuran      
6 Perkebunan      
7 Buah-Buahan      
8 Peternakan      
9 Jasa      
10 Industri      

Sumber: FGD Tingkat Kabupaten dan Kota

 

KPJu potensial yang dapat dikembangkan adalah Industri rumah kecil seperti anyaman, souvenir Aceh seperti tas kerrawang dan industri batu bata. Adapun sektor perikanan yang berpotensial seperti ikan nila, kerapu dan bandeng. Berdasarkan hasil FGD menyebutkan bahwa sektor jasa memiliki potensi yang sangat baik di Aceh Utara. Selama ini sektor jasa sudah memberikan kontribusi dalam bentuk PDRB yang lebih baik di bandingkan sektor perdagangan. Perikanan juga menjadi sektor usaha yang sangat prosuktif, wilayah Aceh Utara yang sebagian besar meliputi wilayah pesisir sangat mendukung dalam usaha pengembangan komoditas perikanan masa yang akan datang.

  1. Kesimpulan

 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan sektor-sektor pertanian, perdagangan, perkebunan, dan jasa merupakan sektor-sektor unggulan UMKM Aceh Utara. Sektor pertanian mengandalkan tanaman pangan, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Sektor perdagangan banyak bertumpu pada komoditas-komoditas hasil perkebunan dan hasil perikanan. Sektor perkebunan berorientasi komoditas-komoditas seperti sawit, kakao, dan kopi. Sementara sektor jasa mengedepankan usaha-usaha yang bergerak di bidang perbengkelan sepeda motor dan mobil. Komoditas-komoditas unggulan UMKM pada sektor-sektor tersebut perlu terus dikembangkan di masa datang agar dapat terus memberikan kontribusi signifikan bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan daerah.

Meskipun Pemerintah Aceh Utara memiliki program terkait dengan pengembangan UMKM, tetapi penjabarannya rencana program masih cukup terbatas. Pemerintah Aceh Utara perlu meningkatkan peran UMKM dalam rangka mendukung program ketahanan pangan, serta peningkatan daya saing produk UMKM dan pembinaan UMKM dalam mendukung program penanggulangan kemisikinan. Hanya saja, indikasi rencana program tersebut masih sangat generik. Selain itu, indikasi rencana program lain yang juga penting, misalnya yang berhubungan dengan permodalan dan pemasaran, tidak mendapatkan perhatian.

 

Penyaluran kredit perbankan kepada UMKM di Aceh Utara bersifat fluktuatif dilihat dari porsi kreditnya terhadap total kredit yang dikucurkan. Hal ini mengindikasikan bahwa dukungan perbankan terhadap UMKM dalam hal akses permodalan masih rendah dan belum mantap. Fenomena ini tidak sejalan dengan peningkatan total kucuran kredit yang disalurkan oleh perbankan dari waktu ke waktu. Tingginya resiko usaha UMKM (misalnya yang bergerak di sektor pertanian) dan persoalan jaminan pinjaman adalah diantara beberapa kendala utama dalam penyaluran kredit perbankan untuk UMKM.

[1] Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *