25
Dec

New York dan Kenyamanan Peneliti

Prof Apridar

Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal)

MENGUNJUNGI New York, tentu menawarkan sejumlah keindahan dan kenyamana kota dengan yang dihuni 8 juta lebih penduduk itu. Setidaknya ada empat universitas negeri dan swasta di kota ini yaitu Yesiva University, The Rockefeller University,Pace University dan Fordham University.

Nama-nama kampus di New York sekilas kalah mentereng dengan Harvard atau Columbia University. Namun, sejatinya, kampus di Amerika pun sama dengan Indonesia, bekerjasama dengan semua kampus, termasuk kampus-kampus di New York bekerjasama dengan Columbia, Harvard dan kampus top lainnya di negeri itu.

Keempat kampus itu memiliki spesifikasi tersendiri. Sebut saja misalnya, Yesiva dan The Rockefeller serius menjadi pusat penelitian kesehatan. Bahkan, di Yesiva dibuat unit Albert Einsstein College of Medicine. Di sinilah, para peneliti bidang kesehatan berkutat. Mereka datang dari berbagai suku dan bangsa dunia. Termasuk Asia.

Komitmen kota ini yaitu membuat nyaman sejumlah pendatang, spesifik bagi kampus, membuat nyaman para peneliti dari luar negeri di kota itu. Sehingga, mereka fokus meneliti, menghasilkan inovasi dan pada akhirnya dapat diaplikasikan dalam tataran kehidupan manusia.

Saya berdiskusi dengan beberapa peneliti dari Asia yang belasan tahun mendiami New York. Awalnya mereka melanjutkan studi magister dan doktoral di beberapa kampus di New York. Lalu memilih bekerja di kampus itu dan akhirnya menjadi peneliti tetap di sana.

whatsapp-image-2016-12-25-at-23-02-40

Bagi masyarakat New York, membuat nyaman pendatang sama pentingnya dengan menciptakan rasa nyaman bagi penduduk lokal. Tidak ada perbedaan soal kenyamanan ini. Termasuk soal layanan publik. Semua dibikin mudah, asal sesuai standar prosedur yang sudah ditetapkan. Inilah konsep metropolitan ala New York.

Masyarakat New York juga tidak memaksakan kehendak adat dan kebiasaan mereka bagi pendatang. Pluralisme di sini diberkalukan, menghormati adat, kepercayan dan agama masyarakat pendatang. Mereka bebas mengaktualisasikan dirinya.

Sehingga, tak heran, peneliti yang berada di kota ini seakan alpa akan kampung halaman. Terlalu nyaman di perantauan. Terasa seperti di rumah sendiri. Selain itu, dukungan pemerintah, kelompok bisnis dan pengusaha untuk peneliti terbilang besar. Sehingga, peneliti tidak direpotkan mengurus administrasi yang bertele-tele, berbelit-belit ditambah lagi pusing mencari sumber dana penelitian. Peneliti di sini, dimudahkan urusan administrasinya dan dijamin sumber dananya baik itu oleh pemerintah maupun kelompok bisnis.

Dari sektor bisnis, kota ini juga menjadi rujukan yang paling sempurna untuk menguji nyali bisnis atau dengan kalimat lain, jangan mengaku diri sebagai pebisnis handal bila belum mampu menaklukan New York. Bisa disebut, kota ini paket komplit menawarkan kenyamanan bisnis dan peneliti.

Di satu sisi ini, tampaknya menjadi catatan penting bagi para kandidat calon kepala daerah di Aceh yang akan ikut kontestasi Pilkada serentak Februari 2017. Komitmen pemimpin Aceh untuk mengajak kelompok usaha mendukung para peniliti sangat diperlukan. Hasil penelitian itu dapat dijadikan referensi dan rujukan membangun Aceh baru yang lebih makmur, lebih sejahtera dan mengejar ketertinggalannya dengan provinsi lainnya di tanah air.

Tentu, kita berharap, ke depan, pemimpin baru Aceh mengedepankan pembangunan sumber daya manusia. Sehingga, generasi masa depan Aceh merupakan generasi emas, yang bisa berbuat banyak untuk kemajuan nusantara bahkan dunia. Semoga

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *