06
Feb

Kebangkitan Kampus Tiga Negara

KEDATANGAN saya kali ini ke Thailad untuk menghadiri pertemuan Indonesia, Malaysia, Thailand Growht Triangle (IMT GT) University Network di Institute Southern Thai Studies, Thaksin University, Songkhla Campus, Februari 2017.

Saya mendarat di Penang kemudian melanjutkan perjalanan via darat ke Thailand bersama Kepala Biro Umum Universitas Malikussaleh, Andriazulfa.

Dari Indonesia, forum ini diikuti Universitas Malikussaleh, Universitas Syiah Kuala, Universitas Sumatera Utara, Universitas Riau, Umrah, Universitas Sriwijaya, Universitas Andalas, dan Universitas Lampung.

Dari Malaysia, anggotanya adalah University Sains Malaysia, Universitas Teknologi Malaysia, dan University Pendidikan Sultan Idris. Sementara dari Thailand, diwakili Thaksin University dan Prince Songkhla University.

Kali ini, tuan rumah pertemuan ini adalah Songkhla University. Tuan rumah sebelumnya adalah Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Tuan rumah dalam forum ini ditetapkan secara bergantian.

Forum ini merupakan komitmen universitas di tiga negara untuk kemajuan bersama. Membangun jejaring inovasi, teknologi dan riset, serta kerja sama lainnya, sehingga seluruh anggota forum ini diharapkan mampu berkembang bersama-sama, memenuhi kebutuhan pasar kerja dan mendorong tumbuhnya para entrepreneur muda di tiga negara.

Kita tahu bahwa sektor usaha kecil dan menengah menjadi sektor paling kuat penyangga ekonomi negara. Tentu, semua kampus ingin alumninya bisa menjadi pengusaha, menciptakan lapangan kerja dan pada akhirnya menggerus angka pengangguran di negeri masing-masing.

Sejatinya, setiap kampus berorientasi peningkatan sumber daya manusia. Namun, di era modern dan pasar bebas ini, kemampuan teknikal dan teori saja tidak cukup. Harus memiliki kecakapan berbahasa asing. Di sinilah, kampus di tiga negara itu terus bekerja sama. Salah satu kerja samanya adalah menggelar pelatihan bersama, baik bahasa asing, dan sejumlah workshop lainnya.

Kami juga mendorong agar pertukaran pelajar terus dilakukan antarkampus, sehingga iklim belajar terus variatif.

Untuk ini, tentu menjadi keniscayaan untuk memiliki kemampuan bahasa asing. Minimal bahasa Inggris yang

menjadi bahasa dunia, sehingga, para mahasiswa bisa kuliah di tiga negara tersebut.

Saya pikir, di era digital ini, kemampuan teknologi harus terus ditingkatkan. Di Universitas Malikussaleh saya meminta Dekan Fakultas Teknik, Unimal, untuk terus meng-upgrade kemampuan teknologi mahasiswa di fakultas itu.

Secara umum, saya minta UPT Pusat Komunikasi (Puskom) Unimal, untuk terus menyebar kemampuan teknologi kepada mahasiswa di seluruh jurusan yang ada. Sehingga, teknologi yang begitu pesat ini bisa diadopsi mahasiswa untuk mempermudah dirinya bekerja kelak. Jangan sampai masih ada cerita gaptek (gagap teknologi).

Di akhir tulisan ini, saya berbahagia karena kerja sama regional yang berlangsung sejak lama ini terus berjalan. Ke depan, kerja sama ini tentu perlu ditingkatkan ke kawasan yang lebih luas, semisal Asean dan lain sebagainya.

Akhirnya, mari bekerja sama untuk kebangkitan kampus tiga negara ini, sehingga mampu mengejar kemajuan kampus-kampus lainnya di dunia. Semoga berkah. |APRIDAR | SERAMBI INDONESIA

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *