24
Apr

Menyatukan 3 Pilar Pembangunan

Prof Apridar

 

MENYATUKAN persepsi, aksi dan sudut pandang pembangunan satu wilayah atau kawasan tidaklah mudah. Dibutuhkan keberpihakan yang sama, mau dibawa kemana kawasan atau wilayah tersebut. Hendak dibawa ke sektor kemaritiman, agraris atau perdagangan.

Setidaknya itu persoalan yang dihadapi beberapa wilayah di nusantara dewasa ini. Persoalan ini salah satu tema yang dibahas pada Asia-Pacific University – Community Engagement Network (Apucen) di Penang dan Malaysia. Dari Universitas Malikussaleh (Unimal) saya datang bersama dosen fakultas ekonomi, Andrea Zulfa.

Konsorsium ini adalah jaringan regional institusi pendidikan tinggi yang terkait dengan promosi budaya keterlibatan universitas-masyarakat secara proaktif, inklusif, holistik dan partisipatif. APUCEN dimotivasi oleh kepercayaan bahwa institusi Pembelajaran yang lebih tinggi dan masyarakat dapat bersatu untuk menciptakan pengetahuan bersama untuk meningkatkan lingkungan sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat di kawasan Asia Pasifik.

Pertemuan ketiga ini dihadiri oleh 90 institusi dari 19 negara Asia dan Eropa. Persoalan yang utama dihadapi dewasa ini adalah menyatukan tiga pilar pembangunan yaitu perguruan tinggi, industri dan pemerintah. Di sebagian daerah, ketiga unsur ini masih berjalan sendiri-sendiri.

Kampus sibuk dengan riset yang terkadang sangat tidak aplikatif, sangat teoritif, dan tidak bisa diaplikasikan oleh pemerintah maupun kelompok industri. Padahal, kampus sejatinya tidak berada di menara gading dan tenggelam dalam baju akademik ilmiahnya. Idealnya, kampus berkontribusi dalam aneka aspek pembangunan.

Sebaliknya, kelompok industri pun sibuk dengan rutinitas produksi dan pemasaran. Lalu, pemerintah menjalankan program yang terkadang “itu-itu” saja dalam rencana pembangunan daerah.

Apucen mendorong seluruh negara terus menyatukan tiga pilar pembangunan itu. Sehingga, terintegrasi dalam satu visi kepala daerah, visi tersebut diterjemahkan kemudian untuk menuntaskan persoalan sosial-ekonomi masyarakat, penegakan hukum, dan pembangunan infrastruktur.

University Sains Malaysia sebagai tuan rumah kali ini nampaknya ingin memperlihatkan bagaimana Penang menyatukan tiga pilar pembangunan itu. Selain itu, kota yang dikenal sebagai Food Paradise tersebut tentu meraih keuntungan dari acara ini, bergulirnya sektor ekonomi masyarakat lokal, mulai dari kerajinan dan makanan.

Semua itu merupakan hasil karya masyarakat, didukung oleh pemerintah berupa penyediaan infrastruktur dan konsepnya ditata oleh kampus.

Selain itu, kalangan industri terus mendorong agar seluruh produk itu tidak hanya dijual di Penang, juga menjalar ke negara Asia Tenggara lainnya.

Apucen ingin mendorong kemitraan harmonis antar kampus lintas negara Asia dan Eropa. Pada tahap berikutnya, tentu diharapkan keikutsertaan kelompok industri dan pemerintah didalamnya. Sehingga, era perdagangan global ini membawa berkah pada seluruh rakyat lintas negara, bukan saja semata pada rakyat dinegara maju.

Nah, tampaknya, Aceh yang baru saja melaksanakan pemilihan kepala daerah, perlu mensinkronkan ketiga pilar pembangunan itu. Sehingga hasil riset kampus bisa aplikasi di industri dan pemerintah. Kebijakan pemerintah didasari kebutuhan yang telah dianalisis lewat riset dan seterusnya.

Para kepala daerah terpilih hasil Pilkada Februari lalu ada baiknya menggunakan hari pelantikan sebagai titik tolak, pembangunan bersama rakyat dan wilayah Aceh bersama kelompok industri dan kampus. Negara lain, telah lama melakukannya, kita, belum terlambat, mari bersama bekerja, demi Aceh bermartabat.

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *