19
May

Kegigihan Jepang Melakukan Pendidikan Karakter

apProf Apridar, Rektor Universitas Malikussaleh, Aceh Utara catatan dari Jepang

 

KEDATANGAN saya ke Jepang kali ini atas undangan Prof Masayuki Fujii, Ph.D, Direktur Sekolah Pascasarjana Kindai University, Jepang. Berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh, saya beserta rombongan Herman Fitra, Dekan Fakultas Teknik, M Akmal, Dekan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Dahlan Abdullah Kepala Perpustakaan Universitas Malikussaleh. Kami tiba di Bandara Fukoka, Jepang dengan sambutan hangat tim Kindai University.

Selama 15-20 Mei 2017, saya dan rombongan berada di Jepang. Beberapa kesepakatan yang kami tandatangani yaitu penelitian bersama, pertukaran pelajar, pengembangan karakter, pengembangan perpustakaan digital, kerjasama kelautan dan kajian sosial serta politik.

Selama kunjungan di Jepang, saya sempat diajak berkeliling oleh Prof Masayuki Fujii ke sejumlah sekolah dasar. Sistem pendidikan dasar di Jepang menekankan kreatifitas dan kearifan lokal, dalam bahasa mereka disebut penguatan karakter anak.

Para murid tidak diberikan hafalan dan hitungan matematis yang begitu memusingkan kepala. Umumnya itu dilakukan pada kelas satu hingga kelas tiga sekolah dasar. Pada level ini, anak-anak diransang permainan yang memiliki unsur edukasi, semisal bagaimana mengenal sejumlah flaura dan fauna.

Pada level ini, mereka didorong agar terus berkreatifitas dan saling welas asih. Sehingga, diharapkan ketika tumbuh mereka bukan bagian kelompok individualis dan mementingkan diri sendiri. Menekan ego anak untuk unggul sendiri terus dilakukan. Mereka diharapkan unggul secara berkelompok, dalam tim yang solid. Maknanya, penekanan kerjasama menjadi poin penting.

Begitu juga program literasi, dimana murid sekolah dasar telah diajak menyukai perpustakaan. Mereka bisa nyaman berjam-jam duduk di perpustakaan sembari melihat aneka buku anak yang jumlahnya ratusan judul itu.

Dalam konteks teknologi, mereka juga diperkenalkan kecanggihan teknologi sejak dini. Bukan sebatas konsumen, juga diperkenalkan bagaimana suatu alat itu bisa berfungsi.

Jepang tampaknya ingin mewujudkan diri sebagai poros pengetahuan kawasan Asia dan dunia. Hal ini terlihat dari berbagai sektor mulai dari pendidikan hingga sepak bola. Tampaknya, mereka berupaya menarik kiblat pendidikan eropa ke negeri tersebut.

Dalam konteks kerjasama dengan lintas universitas di Indonesia, Jepang menginginkan agar terjadi transfer ilmu antar dosen dan mahasiswa. Sehingga, ke depan, kerjasama itu berdampak akan ada dosen Jepang mengajar di Unimal. Hal serupa pernah kita lakukan dengan sejumlah kampus di Korea Selatan.

Salah satu fokus yang paling kita bincangkan yaitu menghadirkan perpustakaan digital. Pembangunan sistem perpustakaan digital ini akan mendapat support dari Kindai dan diharapkan dapat diakses oleh publik tanah air.

Sehingga, perpustakaan Unimal ke depan dalam konteks digital bukan hanya bisa diakses oleh sivitas akademika saja, namun juga diakses oleh publik dunia. Kerjasama lintas kampus diyakini salah satu solusi berkontribusi untuk kedua negara yaitu Jepang dan Indonesia. Kerjasama jenis ini tentu dengan tujuan akhir yaitu mewujudkan tridharma perguruan tinggi, dimana salah satu fokusnya adalah pengabdian pada masyarakat.

Untuk itu, pembangunan kampus tentu harus terus didukung oleh semua pihak. Sehingga, kampus bukan menjadi salah satu pemberi masalah dengan lulusannya, namun menjadi pemberi pencerahan dari lulusannya. Semoga Allah meridhai. Amin.

Comments ( 0 )

    Leave A Comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked *